Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2010

Peresean, Adu Kekuatan Fisik Ala Lombok

Pada sebuah sore yang hangat di Lapangan Monjok Selaparang, Mataram, Lombok, ratusan orang, mulai balita hingga orang tua berkerumun, di sekitar pagar bambu setinggi lutut orang dewasa berbentuk segi empat ukuran 20 meter x 20 meter.

Ya, sepertinya sebuah arena pertempuran mengadu kekuatan fisik telah disiapkan di lapangan itu. Dua pasang perisai dan penjalin rotan pun telah ditata sedemikian rupa di tengah-tengah arena.

Iringan musik gamelan Lombok yang dimainkan secara langsung oleh sekitar 10 orang secara bergantian di salah satu sudut lapangan seolah mampu menyulutkan adrenalin setiap orang yang datang ke lapangan itu dan tanpa rasa takut, mengadu kekuatan mereka.

Tak lama kemudian, tiga orang pria separuh baya masuk ke arena pertempuran dan mengajak pemuda-pemuda gagah yang datang ke lapangan itu untuk mengadu kekuatan.

Tanpa ada rencana apapun sebelumnya, pemuda-pemuda itu pun secara suka rela menerima tantangan untuk mengadu kekuatan fisik dengan cara saling memukulkan penjalin ke badan lawan.

Kegiatan adat yang sudah berlangsung turun-temurun melewati generasi demi generasi itu dikenal dengan nama peresean, atau saling membentengi diri dari serangan lawan dengan menggunakan perisai atau ende dalam bahasa Sasak, suku asli Lombok.

"Dalam peresean ini, masing-masing lawan tidak tahu akan menghadapi siapa di arena pertandingan, karena semuanya dilakukan secara spontan, saat itu juga," kata Lurah Monjok Budi Wartono.

Lecutan penjalin yang diayunkan sekuat tenaga oleh petarung-petarung yang disebut pepadu di tengah arena itu menyihir penonton untuk tidak beranjak dari pinggir lapangan. Semakin sore, penonton semakin banyak.

Bilur-bilur merah di punggung dan juga pundak akibat terkena pukulan penjalin seolah sudah tidak lagi dirasakan oleh pepadu yang berada di arena.

"Mereka hanya boleh memukul daerah pinggang ke atas termasuk kepala. Jika kena kepala, maka biasanya pepadu akan langsung dinyatakan menang karena lawan sudah tidak lagi berdaya melanjutkan pertandingan," kata lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) 2000 itu.

Selama menyelenggarakan peresean, cedera terparah yang pernah dialami peserta adalah harus menerima 18 jahitan di kepala.

"Mereka tidak akan menuntut panitia karena hal itu. Luka yang mereka dapat adalah resiko yang harus mereka tanggung sendiri. Biasanya mereka malu jika harus mengadu, karena akan dianggap tidak jantan," katanya.

Ia menyatakan, sebelum bertarung di arena, panitia harus memastikan bahwa di antara pepadu tidak ada dendam sebelumnya.

"Ini adalah pertarungan tanpa dendam dan tidak boleh ada dendam di luar arena pertandingan," katanya.

Selama bertarung, seluruh pepadu wajib mengenakan atribut khas peresean, yaitu kain sarung yang dililitkan di pinggang sepanjang lutut dan juga mengenakan ikat kepala.

Pada peresean di Lapangan Monjok yang digelar untuk menyambut HUT ke-17 Kota Mataram tersebut, panitia tidak menyiapkan hadiah istimewa, tetapi sekadar tali asih berupa uang Rp 20.000 bagi yang kalah dan Rp 25.000 untuk pemenang.

Peresean semula ditujukan sebagai ritual untuk meminta hujan, namun saat ini peresean lebih banyak dilakukan untuk memperingati hari-hari tertentu seperti Hari Ulang Tahun Kota Mataram, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau menjelang puasa.

"Antusiasme masyarakat tetap tinggi meskipun ini adalah tradisi yang biasanya sering terlupakan, karena kemenangan yang diperoleh dari ajang peresean ini akan turut mengangkat derajat dan gengsi seorang laki-laki," katanya.

Bagi seorang pepadu yang sudah disegani di masyarakat berjuluk Piring Nadi, tradisi peresean harus tetap dipertahankan agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

"Saya sudah mulai mengenal tradisi ini sejak kelas dua sekolah dasar hingga kini saat saya duduk di bangku kuliah," kata Piring Nadi yang bernama asli Supardi (26).

Ketertarikannya untuk mempelajari peresan bermula dari ayahnya, seorang pepadu yang disegani pada jamannya. "Saya merasa bangga dapat menjadi pepadu karena lebih disegani di tengah masyarakat," lanjutnya.

Selain mengadu kekuatan fisik, ia tidak menampik apabila tradisi peresean tersebut juga menjadi ajang untuk mengadu ilmu yang berdasarkan pada mantra-mantra.

"Jika sudah sangat kuat, seorang pepadu bahkan tidak harus mengeluarkan tenaga fisik untuk mengalahkan lawannya, misalnya dengan membuat penjalin yang semula sangat keras itu menjadi lembek," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Mataram Alwi menyatakan, Kota Mataram berencana untuk mengembangkan peresean tersebut menjadi objek wisata bagi wisatawan. "Saat ini memang belum dikemas seperti itu, tetapi rencana ke arah sana pasti ada," lanjutnya.(Eka Arifa Rusqiyati)

Sumber: Kompas

Selengkapnya.....

Jumat, 18 Juni 2010

Budaya Jadi Alat Pemersatu Bangsa

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan budaya bisa menjadi alat pemersatu bangsa, karena melalui kebudayaan antarwarga masyarakat akan semakin akrab.


"Untuk itu, setiap daerah perlu memperbanyak karnaval budaya, karena kegiatan tersebut dapat memperkokoh persatuan bangsa," katanya pada pelepasan karnaval budaya menyambut Festival Sriwijaya XIX Tahun 2010, di Palembang, Rabu.

Karnaval budaya yang diikuti 15 kabupaten dan kota itu, merupakan rangkaian kegiatan Festival Sriwijaya yang diselenggarakan setiap tahun.

Dalam pelepasan karnaval budaya itu juga digelar berbagai aktrasi budaya serta kesenian tradisional dari 15 kabupaten dan kota se Sumatera Selatan.

Lebih lanjut menteri mengatakan budaya juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, karena mereka ingin mengetahui keanekaragaman budaya nusantara.

Namun, yang lebih penting lagi melalui karnaval budaya bisa menjadi salah satu alat promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan karnaval budaya itu digelar sebagai serangkaian kegiatan Festival Sriwijaya sekaligus menyambut HUT Kota Palembang Juni 2010.

"Mendatang karnaval budaya dan Festival Sriwijaya akan dilaksanakan pada November 2011, bersamaan dengan pembukaan SEA Games," katanya.

Sumber: Antara

Selengkapnya.....

Minggu, 15 Juni 2008

Pesta 'Gawe Alip', Tradisi Masyarakat Bayan Rehab Makam Nenek Moyang

Masyarakat di Kecamatan Bayan dikenal sebagai masyarakat yang masih taat memelihara adat istiadatnya. Untuk tahun ini masyarakat di Bayan Beleq tengah mempersiapkan prosesi Pesta Gawe Alip untuk memperbaiki makam Reak yaitu makam nenek moyang masyarakat Bayan.

H M. Amir Itrawati selaku Ketua Panitia rehab makam reak kepada Suara NTB Jumat ( 13/6) kemarin mengatakan, makam ini merupakan makam terbesar bagi masyarakat Bayan. Rehab makam ini merupakan bagian dari tradisi yang harus dilakukan sekali dalam delapan tahun. ‘’ Hingga saat ini sudah empat kali makam ini direhab oleh masyarakat Bayan,’’ jelas M. Amir.

Ia menambahkan, tidak ada kejelasan yang pasti mengenai siapa tokoh yang dimakamkan di makam reak tersebut. Namun menurut sejumlah riwayat, di komplek makam tersebut dimakamkan seorang penyebar Agama Islam yaitu Gauz Abdurrazak dari Pancor, Lombok Timur ( Lotim). ‘’Ada juga yang mengatakan makam itu adalah Muterning Jagat serta ada juga yang menyebut makam itu adalah makam Syeh Nurul Rasyid,’’ tambahnya.

Perbaikan makam yang dilakukan oleh masyarakat Bayan itu mempunyai keunikan tersendiri. Semua bahan – bahan yang telah digunakan membangun makam dibuang setelah sebelumnya dibungkus dengan kain putih yang ditenun khusus oleh masyarakat setempat. Begitu juga bahan – bahan yang baru dipakai harus dibungkus dengan kain putih. ‘’Termasuk tiang makam serta bebao atau alat langit – langit makam dilapisi dengan kain putih juga,’’ ungkapnya, sembari menambahkan total biaya memperbaiki makam itu mencapai Rp 42 juta.

Ditengah prosesi adat merehab makam reak tersebut, Gubernur NTB H. L Serinata berkesempatan hadir guna memberikan bantuan moral maupun material. Gubernur dalam sambutannya mengatakan, masyarakat harus menghargai dan memelihara adat. Tradisi yang diwarisi nenek moyang harus dilestarikan oleh penerus generasinya. ‘’ Sebab saat ini banyak tradisi adat kian dilupakan masyarakat,’’ ungkap Serinata. Ia pun mendukung sepenuhnya upaya masyarakat Bayan menggelar Pesta Gawe Alip dalam rangka merehab makam reak tersebut.

Acara yang digelar di bencingah rumah adat Bayan itu dihadiri ratusan tokoh adat dan masyarakat setempat. Mereka menggunakan baju adat khas Bayan dan melantunkan sejumlah lagu penyambutan semacam pepaosan. Lagu ritual ini biasanya khusus dilantunkan pada acara – acara adat. Acara ini diwarnai ritual adapt yang kental, karena sebelum Gubernur menuju bencingah, Serinata terlebih dahulu disambut dengan cara adat oleh masyarakat setempat.
Dimana gubernur yang sebelumnya memakai kopiah nasional diganti dengan ikat kepala semacam sapuq dan dipasangkan kain adat. Masyarakat setempat pada dasarnya sangat terbuka dengan masyarakat luar, terlebih bagi mereka yang ingin mengunjungi situs masjid kuno ayan yang lokasinya tidak jauh dari bencingah rumah adapt Bayan. (ris/kmb)

Sumber : Suara NTB

Selengkapnya.....

Senin, 12 Mei 2008

Sejumlah Kesenian Tradisi Lombok Terancam Punah

Sejumlah kesenian tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan terancam punah. Pementasan cupak gerantang dan wayang kulit merupakan seni tradisi yang dulu lazim digelar untuk memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di NTB namun kini nyaris tak terlihat lagi.


“Cupak gerantang merupakan salah satu kesenian tradisional Lombok yang cukup digemari masyarakat dan kini terancam punah,” demikian hasil pemantauan Kantor Berita Antara di Mataram, yang dilansir Rabu (26/3).

Hari-hari ini masyarakat Lombok khususnya di Kelurahan Dasan Agung, Kota Mataram, sedang merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW secara tradisional selama sebulan penuh hingga akhir bulan Rabiul Awal. Masyarakat tidak lagi menampilkan kesenian tradisional melainkan grup musik seperti band. Bahkan banyak kesenian tradisional sudah tidak dimainkan lagi, karena para pemainnya pindah ke kesenian gendang beleq.
Salah seorang pemain cupak gerantang, Yusuf (55) dari Dasan Agung Mataram mengatakan, kesenian itu beberapa tahun lalu sering tampil hampir diseluruh pelosok Pulau Lombok. Saat itu masyarakat masih menyenangi cupak gerantang, sehingga ketika digelar di suatu desa penontonnya mencapai ribuan orang. Pertunjukan biasanya berlnagsung sejak pukul 21.30 Wita hingga pukul 03.00 subuh.

Yusuf yang acap berperan sebagai Cupak, tokoh yang rakus dalam hal makan, mengatakan, cupak gerantang sekarang hampir tidak pernah tampil karena kalah bersaing dengan jenis kesenian lain. Sementara kaum muda Lombok atau NTB pada umumnya akan menjadi bahan tertawaan, jika mereka masih menonton cupak . Akibatnya para pemain juga malas tampil. “Sementara pembinaan dari pemerintah hampir tidak ada, kita hidup secara mandiri,” katanya.

Antara juga melaporkan bahwa sejumlah kesenian tradisional lain di NTB juga nyaris punah. Di antaranya ialah cepung, joget dan tawak-tawak. “Sementara tari Gandrung hanya ditampilkan ketika menyambut tamu dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Beberapa tahun lalu joget dan cepung masih sering ditampilkan pada saat perayaan hari-hari besar termasuk peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus, namun akhir-akhir ini tidak lagi.

Pihak Dinas Budpar NTB melakukan pembinaan terhadap kesenian tradisional dengan memberikan kesempatan kepada kesenian tradisional tampil diberbagai acara untuk menghibur rakyat. Di samping itu, kesenian tradisinal juga ditampilkan di hotel-hotel berbintang untuk memberikan hiburan kepada para wisatawan.

Sekarang kesenian yang sedang hidup dan berkembang di masyarakat ialah gendang beleq. Gendang beleq ialah musik penyemangat yang dulu digunakan sebagai musik pengantar prajurit yang akan turun ke medan perang. Aslinya seni gendang beleq dimainkan oleh 17 orang yang memainkan atau menabuh alat musik Gendang Beleq, pentung, gong, ceng-ceng, reong, dan dempul. Sebagai seni pertunjukan kini gendang beleg bisa terdiri dari 30 orang dan mengutamakan tampilan ekspresi, busana, dan permainan pelengkap.

Masyarakat Lombok yang mengadakan acara perkawinan terutama nyongkolan selalu menampilkan kesenian gendang beleq.

Sumber : Kompas

Selengkapnya.....

Arup, Pembaru Wayang Sasak Lombok

ARUP alias Amaq Rani (39) mungkin bisa disebut sosok yang lahir dari gerakan reformasi yang membuka keran bagi kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat. Warga Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Pujut, Lombok Tengah, NTB, ini mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan berpendapatnya selaku “dalang wayang alternatif”.


Dalam wayangnya, para tokoh dan kelampan (lakon) berbeda dengan wayang tradisi Sasak Lombok. Setting cerita adalah problema masyarakat di obyek wisata Kute dan Tanjung An. Di kawasan yang bertetangga dengan Dusun Arup itu ribuan penduduk kehilangan tanah. Lahan dibebaskan dengan kekerasan untuk kepentingan pariwisata. Arup pun terpaksa melepas tanahnya seluas 0,50 hektar untuk keperluan yang sama.

Sebagai wujud pembelaan atas nasib rakyat di wilayah itu, Arup menciptakan para tokoh imajiner atau korban yang “diambil” tanahnya oleh perusahaan pengelola kawasan: PT PPL (Pembangunan Pariwisata Lombok) atau LTDC (Lombok Tourism Development Coorporation)-badan usaha bentukan Pemda NTB dan PT Rajawali Wira Bhakti.

Diperkuat 10 anggota, penonton pagelaran wayang Arup dibiarkan ikut berpartisipasi dengan dalang. Ini mirip penonton pertunjukan Lenong Betawi di mana penonton turut berdialog dengan pemain. Bahkan atas perintah penonton, kelampan yang sedang dimainkan Arup-misalnya lakon-lakon wayang tradisi-bisa diganti kelampan lain.

“Penonton sukanya kelampan demo (demonstrasi),” ujar Arup yang hanya mengenyam kelas I sekolah dasar. Kelampan demo, dalam wayang tradisi masuk adegan rerencekan, yang isinya banyolan-banyolan atau pesan pembangunan. Namun, Arup menarik rerencekan ke depan sebagai cerita utama, yang sekaligus kekhususan “wayang alternatif”-nya.

***

KAWASAN Kute dan sekitarnya merupakan daerah wisata di Lombok Tengah. Tahun 1990, PPL dengan masa kontrak 70 tahun (dengan Pemda NTB memegang saham 30 persen) membebaskan tanah guna membangun prasarana dan sarana untuk wisatawan di situ.

Para calo dan broker tanah bermunculan. Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme dari oknum pejabat tingkat I NTB dan tingkat II Lombok Tengah tidak terhindarkan. Apalagi dalam LTDC itu ada saham milik Keluarga Cendana.

Pengalihan hak atas tanah (1.250 hektar) dilakukan secara paksa dan tidak luput dari intervensi pejabat teras. Menolak lahan dibebaskan, berarti harus menghadapi berbagai intimidasi yang dilakukan nyaris semua lini pemerintahan.

Intervensi penguasa itu membuat mereka terpaksa melepas tanah, walau dengan harga pembebasan jauh dari standar. Akibatnya para pemilik tanah, petani rumput laut, dan nelayan tergusur dari lahan tambang nafkahnya. Mereka memang sempat berdemonstrasi ke Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB di Mataram, namun hasilnya sia-sia. Yang terjadi adalah proses pemiskinan, dan itulah setting sosial wayang Arup.

***

KAPAN wayang dikenal di Lombok, belum diketahui pasti. Sumber yang ada sebatas mitologi. Alkisah pada abad XIV-XV, terjadi kemarau panjang selama tujuh tahun. Pohon meranggas, rumput mengering, tanah sawah gersang dan merekah dibakar terik kemarau. Keadaan berubah tatkala muncul seorang lelaki berpakaian serba putih yang dalam mitologi disebut Raden Sangupati, yang kemudian membagi-bagikan obat-obatan pada penduduk.

Itu terjadi setelah penduduk mengucapkan Kalimah Syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Tetapi, dari telusur pustaka, ada pula yang mengatakan, wayang di Lombok konon sudah ada sebelum Sunan Prapen datang menyiarkan Islam tahun 884 Hijriah/1464 M ke sana.

Ilustrasi itu setidaknya menggambarkan bahwa wayang merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal luas di Lombok. Sejumlah tulisan menyebut-kan bahwa sumber cerita wayang Sasak dari Serat Menak, yang juga dipakai dalam wayang golek. Sedang wayang Jawa dan Bali umumnya memakai Mahabharata dan Ramayana sebagai sumber cerita.

Lakon wayang Sasak biasanya ber-nuansa Islam, seperti Kelampan Yunan, Bangbangri, Jenglengge, Kabar Sundari, Gendit Birayung, dan lain-lain. Ini diperkuat oleh para tokohnya (wayang kanan) seperti Amir Hamzah atau populer disebut Wong Menak. Di masa lampau, wayang merupakan media dakwah dan hiburan, meski dalam perkembangannya berfungsi sebagai sarana hiburan, penyuluhan. Juga untuk meramaikan hajatan seperti acara sunatan, pesta perkawinan, membayar kaul, dan semacamnya.

Bila penonton wayang Jawa menyaksikan pagelaran dari arah belakang dalang dan grup penabuh, maka penonton wayang sasak berhadapan dengan ranggon (panggung). Bagian depan ranggon terdapat kelir (layar), dan labakan atau lampu.

Jumlah wayang Sasak tidak kurang dari 400 lembar (terbuat dari kulit binatang). Pementasannya diperkuat dua orang pengabih, yang membantu mengambil wayang yang akan dan sudah dimainkan. Ada tujuh penabuh yang memainkan instrumen suling, gendang (lanang-wadon), rincik (alat ritmik), kempul, kenot, dan kajar (sejenis reong).

***

RUP tidak mesti mengubah total tata cara pertunjukan wayangnya. Walau harus memainkan kelampan demo, ia tetap menyampaikan pengaksema-semacam ucapan perkenalan (pendahuluan), sekaligus mengutarakan kelampan dengan bahasa Jawa Madya.

Dalam pengaksema inilah disampaikan kelampan yang dipilih: wayang tradisi ataukah cerita aktual semacam kelampan demo tadi. Tidak jarang kelampan bisa diganti di tengah jalan. “Saya sedang memainkan kelampan Junglengge, penonton berteriak supaya diganti dengan kelampan demo,” ujar Arup. Penonton pun bengak-bengok manakala jalan cerita dinilai kurang pas, dan Arup menanggapinya untuk meluruskan jalan cerita versi penonton.

Dialog demikian tidak ditemukan dalam wayang tradisi, dan di sinilah kekuatan Arup berkesenian. “Wayang adalah media komunikasi antara dalang dan penonton. Bila terjadi komunikasi antarkedua pihak, maka pesan yang disampaikan dalang nyambung dengan khalayak penonton. Adanya dialog inilah satu wujud berkesenian,” Ida Wayan Pasha, pemerhati Budaya Sasak Lombok, mengomentari kiprah Arup.

Penampilan grup wayang Arup dan kawan-kawan terkesan memprihatinkan. Kenot dan kajar bukanlah terbuat dari bahan kuningan dan logam, melainkan hanya sebuah piring makan berbahan seng yang tiap kali pentas bisa dipinjam pada tuan rumah (pengundang).

Kempol (gong)-nya terbuat dari bagian penutup drum bekas, yang dipakai buruh tani merontokkan padi (ngerampek). Wayangnya, yang berjumlah sekitar 70 lembar berupa kardus dan bungkus (pak) rokok dibuat dan disunggingnya sendiri dengan pisau yang biasa digunakan meraut bambu. Wayang itu lalu dicat agar menjadi keras.

Arup agak lega karena telah memiliki kelir cukup bagus sumbangan sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat. Kelir yang digunakan semula adalah kain sprei layak pakai yang beberapa bagiannya harus ditambal karena sudah bolong.

Selain tokoh-tokoh wayang tradisi, Arup juga memiliki tokoh imajiner yang dibuatnya sendiri seperti tokoh Gubernur NTB, Ketua DPRD NTB, Ketua BP7, kelompok demonstran, sosok polisi, tentara, Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB, para tokoh LSM, di samping Inaq Maryam, Inaq Janum, Amaq Mai, dan sejenisnya.

Arup, ayah seorang anak ini, agaknya tanpa disadari tampil sebagai “pembaru” dalam seni pewayangan Sasak Lombok. Bukan saja karena dia termasuk korban dari proses marginalisasi, melainkan juga idealismenya yang mendorongnya berontak. Darah seni membuatnya lebih peka melihat proses peminggiran rakyat akibat pembangunan.

Arup yang nyaris buta huruf latin, tidak bisa menulis-membaca huruf Jejawan (turunan Hanacaraka), dan dengan peralatan serba amat sederhana, bisa berbuat sesuatu bagi kesenian.

Sumber : Kompas

Selengkapnya.....

Selasa, 29 April 2008

’Male’an Sampi’’ Peninggalan Budaya yang Harus Dilestarikan

Dari sekian banyak event-event pariwisata yang di gelar Pemkab Lombok Barat (Lobar) atraksi budaya Male’an sampi (Karapan Sapi) menjadi andalan Pemkab Lobar. Seperti event lainnya, Male’an Sampi juga diupayakan dapat merangsang minat para wisatawan berkunjung ke Lobar khususnya.



Demikian disampaikan Bupati Lobar Drs. H. Iskandar dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten I Setda Lobar Ir. Rahmat Agus Hidayat, M.M dalam acara Male’an Sampi di Narmada, Senin (14/4) kemarin. Dikatakan,Male’an Sampi merupakan satu dari sekian banyak peninggalan budaya yang patut untuk dilestarikan untuk membantu menunjang pariwisata ke depan. ‘’Kita berharap agar event Male’an Sampi ini bisa menghipnotis wisatawan untuk berkunjung ke Lobar,’’ harapnya.

Ketua Panitia Male’an Sampi, H. L. Suhaemi mengatakan, kegiatan tradisional Male’an Sampi sudah dikenal dan digemari oleh masyarakat petani maupun peternak sapi sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda sekitar abad ke-18 dan juga saat pemerintahan Jepang. Kegiatan itu terus berlangsung dibuktikan dengan adanya gambar Bendera Jepang pada Serumpungan atau kerotok sapi yang dipertandingkan. ‘’Kegiatan ini terus dipertahankan sampai sekarang, terutama di Narmada,’’ tambahnya.

Dalam Bahasa Sasak Lombok Male’an Sampi terdiri dari dua kata yakni, Male’an yang berarti memalek atau mengejar dan kata Sampi berarti Sapi. Dalam Male’an Sampi ini, yang dikedepankan adalah kemampuan seseorang mengendalikan sepasang sapi yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan seperti Gau, Ayuga, Samet, dan Serumpungan atau Kerotok. ‘’Kegiatan itu diadakan pada sebidang tanah sawah datar dengan panjang kurang lebih 100 meter dalam keadaan terendam air,’’ katanya menambahkan.

Lebih jauh Suhaemi mengatakan, pasangan-pasangan sapi yang akan dipertandingkan dalam arena Male’an Sampi terlebih dahulu dihias kemudian diarak diiringi kesenian daerah Lombok, seperti Gamelan Kamput, Batek Baris Lingsar, Tawak-tawak dan sebagainya.

Dalam acara tersebut, penonton yang memadati pinggir arena cukup banyak, namun dari sekian banyak penonton atau pengunjung yang datang hanya segelintir wisatawan asing yang datang. Padahal Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lobar sudah gencar melakukan promosi sampai ke luar negeri, seperti Cina, Singapura, Australia, serta dataran Eropa seperti Jerman yang dilaksanakan baru-baru ini.

Sumber : Suara NTB

Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Maret 2008

‘’Mandi Sapar’’ Tradisi Tolak Bala

Mataram (Suara NTB) MENJELANG bulan Rabiul Awal (salah salah satu bulan di tahun Hijriyah-red), umat Islam menjalani tradisi Mandi Sapar atau mandi pada bulan Sapar. Acara ini biasanya berlangsung di pinggir pantai. Namun, mereka yang tinggal di daerah perkotaan, Mandi Sapar dilakukan di sungai terdekat. Seperti yang dilakukan warga Rungkang Jangkuk, Kelurahan Sayang-sayang, Kota Mataram. Mereka berduyun-duyun datang ke sungai setempat untuk Mandi Sapar.

Seorang tokoh agama di Rungkang Jangkuk, Azharuddin, menerangkan Mandi Sapar merupakan tradisi menjelang tibanya bulan Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang lazim disebut bulan Mulud yang dirayakan setiap tahun. Sebelum Mandi Sapar yang lazimnya diadakan setiap hari Rebo Buntung, hari Rabu terakhir pada Rabiul Awal dan pada malam harinya warga berkumpul berdoa yang dipimpin pemuka Agama Islam.

‘’Saat berdoa kita membaca tujuh ayat. Tujuan pembacaan ayat ini agar kita terhidar dari bala atau penyakit dan panjang umur,’’’ jelas Pimpinan Diniyah Raodatul Jinna (kebun sorga) itu, Rabu (5/3) kemarin.

Pantauan Suara NTB, peserta Mandi Sapar tak hanya kalangan tua, tapi yang muda dan anak-anak juga ikut mandi di Kali Jangkuk yang letaknya di samping Lingkungan Rungkang Jangkuk. Mereka terlihat bergembira bahkan sejumlah anak-anak berenang saling kejar-kejaran di kali itu. Sementara panitia penyelenggara juga mengadakan lomba memukul di atas kayu yang terbentang di atas Kali Rungkang Jangkuk.

Menurut Azharuddin, sampai kini tradisi Mandi Sapar tiap tahun tetap diadakan, seperti halnya di Pulau Jawa. Bahkan, ada juga warga yang Mandi Sapar di objek wisata dan ke pantai bersama keluarga pada hari Rebo Buntung, Rabu kemarin. Perayaan ini diyakini bisa menolak bala.

Ia tak menampik ada pihak tertentu yang melihat tradisi ini sebagai sebuah Bidaah atau pekerjaan yang tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, sambung Azharuddin, setelah diberikan pemahaman bahwa tradisi ini ada landasannya dalam kitab, mereka akhirnya percaya. (sam)


Selengkapnya.....

Rabu, 20 Februari 2008

Lombok Kembali Gelar Tradisi ‘Bau Nyale’ 26 Februari 2008

MATARAM–MI: Tradisi bau nyale atau menangkap cacing laut akan digelar 26 Februari 2008 di objek wisata bahari Pantai Kuta, Mawun, dan Seger, Kabupaten, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kasubdin Pemasaran, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB, Mahdi di Mataram, mengatakan, tradisi bau nyale tersebut diawali dengan berbagai lomba atraksi budaya dan olahraga serta pagelaran kesenian tradisional.

Atraksi budaya yang akan ditampilkan antara lain, sepok (olahraga tradisional di Lombok, presean (saling pukul dengan rotan dilengkapi prisai terbuat dari kulit kerbau atau sapi), lomba pakaian adat pengantin Sasak (Lombok).

“Lomba ini khusus diikuti para wisatawan mancanegara yang kebetulan menginap di hotel yang ada di Lombok, ini merupakan salah satu upaya untuk menarik minta wistawan berkunjung ke daerah ini,” katanya.

Acara bau nyale itu juga dimeriahkan dengan pagelaran tarian tradisional, Betandak (saling berbalas pantun), pagelaran drama tradisional dan pagelaran drama Putri Mandalika, main manuk (main ayam).

Lomba lari 10 kilometer (10 K) lintas alam, lomba surving, lomba sampan dayung juga digelar untuk memeriahkan tradisi yang merupakan kalender tahunan pariwisata NTB itu.Acara puncak menangkap nyale dilaksanakan Rabu dini hari sekitar pukul 04.00 Wita dan pada Rabu (19/2) sebelumnya masyarakat mengarak patung Putri Mandalika dari panggung tempat berlangsungnya acara ke pantai.

Tradisi bau nyale diakhiri dengan acara belancaran atau rekreasi menggunakan perahu tradisional di Pantai Kuta, Seger, dan Mawun. Acara bau nyale yang berlangsung setiap tahun pada bulan Februari tersebut dihadiri puluhan ribu masyarakat Lombok dan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

Tradisi nyale ini merupakan suatu kejadian yang dikaitkan dengan budaya, konon menurut kepercayaan sebagian masyarakat Lombok ada seorang putri bernama Putri Mandalika yang karena kecantikannya banyak putra mahkota yang ingin mempersuntingnya menjadi permaisuri.

Putri Mandilika tidak bisa menentukan pilihan, sebab jika ia hanya memilih satu orang, maka akan terjadi peperangan, putri yang arif dan bijak ini tidak menghendaki terjadinya peperangan, karena akan banyak mengorbankan rakyat.

Mandalika akhirnya menceburkan diri ke laut sambil berucap semoga jelmaan dirinya akan dimiliki banyak orang. Konon rambut Putri Mandalika menjelma cacing laut yang berwarna-warni yang oleh masyarakat Lombok dinamakan nyale dan dipercaya sebagai penjelmaan Putri Mandalika. (Ant/OL-03)

Sumber : www.sasak.org

Selengkapnya.....

Minggu, 10 Februari 2008

Lombok Sasak dan Mesobe maeh!

Lombok itu pedas, orang pingsan juga tahu, tapi lombok sebesar hampir 5 ribu km2 adalah nama pulau yang dihuni orang Sasak yang bikin sesak. Saking banyaknya orang yang tidak berani bilin kaleng (meninggalkan tempat).

Lombok bukan bermaksud sebagai cabe, karena bahasa Sasak untuk cabe adalah sebiya. Orang Sasak tidak pernah menyebut negerinya Pulau Sebiya. Lombok kalau diucapkan (l?umb?u’), disini o dilafalkan seperti pada kata lio (li?u), yang artinya menengok, mengandung makna lurus, lempang.

Orang Sasak yang hidupnya selalu berdesak-desakan adalah orang yang lurus hatinya dan suka jalan yang lempang. Ciri-ciri mereka yang lempang masih tercermin dalam pola tingkah sehari-hari terutama masyarakat yang masih tinggal di daerah yang jauh dari kota. Namun ada juga orang-orang yang memelihara budi pekerti meskipun tinggal di kota..

Orang Sasak dalam bahasa Inggris disebut Sasaks, bahasa Prancis Sassaqois (saya yang bikin sesuai kaidah bahasa Prancis dibaca Sasakwa) dan bahasa Spanyolnya Sasanida. Yang beda penyebutan adalah oleh bangsa Spanyol, mereka bersama orang Portugis adalah bangsa yang mula-mula sekali datang ke Nusantara. Apakah mereka dahulu menemukan sesuatu yang berkaitan dengan bangsa Sasanid yang ada di Asia Barat (Persia) atau mereka salah sebut saja. Masih perlu dikaji.

Meskipun demikian ada sedikit kaitan dengan nama ala Spanyol itu dengan Persia. Orang Persia dan India adalah penyebar Islam yang peling awal di tanah air kita. Karakteristik orang Sasak yang utama adalah suka melakukan hal-hal kecil. Semua serba kecil mulai dari rumah, jalan, lapangan dll.

Mereka suka hidup di dasan-dasan kecil yang menyebar di perbukitan. Kota besar seperti Selong adalah kota yang dirancang secara modern. Penataannya rapi. Panjangnya hanya 1 km dan lebarnya mungkin separuh panjangnya. Jalannya lurus-lurus dengan jalan Raya yang membelah kota. Dahulu jalan utama disebut jalan raya saja, tanpa embel-embel nama.

Selaparang adalah nama kerajaan yang berkuasas di Lombok Timur. Banyak yang mencari asal usul kata yang menjadi nama kerajaan itu tetapi belum juga pas. Selo dalam bahasa Jawa berarti batu, parang berarti, besar, luas. Dalam bahasa Rusia, bahasa yang kosa katanya masih menunjukkan akar kata sansekerta, Selo berarti desa.

Apakah yang dimaksud Selaparang adalah batu besar (batu buele’) ata desa besar ( desa beule’) Orang Sasak mempunyai karakter yang keras, tapi dibalik kerasnya tersimpan hati yang lembut. Mereka mudah patah arang (nyeule’). Kalau sudah benci setengah mati keadaan tidak dapat diperbaiki lagi, begitupun kalau sudah senang tak juga dapat dihalangi. Kalau hanya dilihat mentah-mentah watak seperti itu sangat merugikan diri sendiri.

Namun kalau soal loyalitas, persahabatan dan kepatuhan berdisplin tidak ada duanya jika mampu menerapkan. Saya menunjukkan sifat-sifat itu kalau sedang membina kerjasama baik dengan orang Sasak atau dengan orang lain. Saya selalu mulai dengan nawaitu yang benar dan mengatakan kepada partner saya bahwa sekali saya percaya kepadanya,bahkan dibunuhpun saya tidak berhenti percaya. Tapi sekali saya tidak percaya, dibunuhpun saya tidak akan percaya.

Penipu kelas kakap pun akan berpikir dua kali untuk berhianat kalau sudah MESOBE (berikrar) seperti itu. Dan demikianlah saya berkali- kali hengkang karena dihianati. Tetapi Mesobe seperti itu jalan terus.

Janganlah berhenti berjuang dan tunjukkan kesanggupan menjaga kebeningan hati dan berpikir jernih di segala waktu dan kondisi. Orang Sasak adalah orang yang senang begawe. Dalam satu pendapat (sosiologi) orang-oarang miskin dikatakan senang berkumpul dan begawai karena tak sanggup memciptakan kesenangan sendiri. Ada benarnya juga tetapi apa yang dilakukan orang Sasak saat begawai adalah wujud solidaritas dan silaturrahmi yang kuat antar keluarga besar mereka.

Salah satu wataknya juga adalah sangat royal saat berjaya dan sangat pelit saat krisis.Sifat seperti inilah yang menimbulkan lemahnya kepribadian secara umum. Bagi yang lemah imannya mereka cendrung jadi penipu, pencoleng dan sebagainya.

Sebaliknya ada juga yang menghilangkan nilai-nilai yang bersifat sangat pribadi. Mereka akan dengan mudah meminjam barang orang lain dan dipakai sesukanya. Mulai alat dapur sampai pakaian dan kenderaan main pinjam saja.

Sebaiknya anak-anak sejak dini diajar mesobe(berikrar) dengan menumbuhkembangkan sifat-sifat baik. Mengawasi pergaulan mereka dan menuntun agar meraka mencintai ilmu lebih dari apapun. Mari Mesobe untuk memakmurkan diri kita keluarga kita tetangga kita yang dekat dan yang jauh dan bangsa kita.

10 Feb 2008 , Yang Mesobe, Hazairin R. JUNEP di Jogjakarta
Sumber : www.sasak.org

Selengkapnya.....

Jumat, 01 Februari 2008

Perang Topat, Ritual di Gumi Sasak

Perang topat (ketupat) setiap tahun berlangsung di Pura Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Upacara ini berlangsung pada waktu saat “raraq kembang waru” alias gugurnya bunga waru.

Acara itu merupakan lambang kerukunan antar umat beragama, khususnya masyarakat Sasak (pemeluk Islam) dan masyarakat etnis Bali (pemeluk Hindu). Perang topat dimulai pukul 15.45, dan berakhir saat matahari tenggelam.

Upacara itu sudah jadi agenda pariwisata. Wanita yang sedang haid tak boleh mengikuti. Sehari sebelumnya ada upacara permulaan kerja atau “penaek gawe”. Ada lagi acara “mendak” alias upacara menjemput tamu agung alias roh-roh gaib yang berkuasa di Gunung Rinjani dan Gunung Agung. Kemudian ada pula penyembelihan kerbau. Ada sesajen berupa jajan sembilan rupa, buah-buahan, dan minuman.

Lempar-lemparan ketupat itu ditingkahi bunyi kul-kul selama sekitar satu jam. Ketupat itu diperebutkan. Yang belum dilemparkan tak boleh dibawa pulang. Kendati ketupat itu sudah penyok, atau isinya “mecotot”, tetap dipunguti orang, khususnya petani, untuk dibawa pulang dan ditempatkan di sudut-sudut pematang sawah atau digantung di pohon buah-buahan.

Maksud upacara itu adalah untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, terutama bagi petani anggota Subak. Memang perang topat tak lepas dari legenda. Konon di Lombok Barat dulu ada Kerajaan Medain. Raja Medain punya anak bernama Raden Mas Sumilir yang bergelar Datu Wali Milir. Suatu ketika ia menancapkan tongkatnya di tanah Bayan. Saat tongkat itu ditarik, air pun muncrat, melaju deras. Dalam bahasa Sasak, melaju artinya langser atau lengsar. Desa itu pun lalu diberi nama Lingsar. Entah bagaimana, Sumilir hilang di situ. Atas musibah itu, seisi istana dan warga sedih. Kesedihan itu berlarut hingga dua tahun. Buntutnya, semua orang melupakan urusan kehidupan. Suatu ketika keponakan Sumilir, Datu Piling, menemukan pamannya itu di lokasi mata air tadi. Dalam pertemuan itu disebutkan, kalau mau menemui Sumilir, hendaklah datang ke mata air itu.

Maka Datu Piling pun memerintahkan pengiringnya untuk menyambut pertemuan itu. Ketupat beserta lauknya dipersiapkan. Pertemuan pun terjadi sekitar pukul 16.00. Setelah itu Raden Mas Sumilir kembali menghilang. Tapi sejak Sumilir menghilang kedua kalinya, warga Lingsar kembali menikmati kemakmuran. Sumber air melimpah, dan siap dipakai mengairi sawah.

Perang ketupat pun lantas dilestarikan sebagai ungkapan rasa syukur, menandai saat dimulainya menggarap sawah (JIBIS Humaniora)

Sumber : www.sasak.org

Selengkapnya.....

Advertise

Get paid To Promote at any Location
 
Website ini dikelola oleh: Terune Sasak  |    Content by : MusiM