Kamis, 26 Agustus 2010

Investor Belanda Siap Sulap Gili Tangkong

Gili Tangkong merupakan satu diantara 23 gili di kawasan perairan Sekotong Lombok Barat (Lobar). Gili (pulau kecil) yang eksotis itu, dalam waktu dekat akan disulap investor Belanda menjadi sebuah tempat berlibur bagi wisatawan khususnya yang akan berbulan madu (honeymoon).

Kepala Bappeda Lobar Ir. H. Moh. Taufiq MSc kepada wartawan Senin (23/8) kemarin mengatakan, Gili Tangkong nantinya akan menjadi tempat yang bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) besar setelah kawasan wisata Senggigi. ‘’Dengan penataan yang baru nanti, gili ini akan menjadi salah satu tujuan wisata para penikmat alam,’’ ujarnya.

Taufiq menambahkan berdasarkan hasil kajian tim serta dari presentasi dihadapan Bupati, investor ini terlihat sangat serius menanamkan modalnya di kawasan Lobar. Selain itu, investor yang akan membangun beberapa sarana pendukung pariwisata seperti bungalow, vila dan restoran itu sudah mulai mengurus perizinan di Kantor Perizinan Terpadu Lobar.

Menurut investor, Gili Tangkong di Sekotong akan diubah menjadi the honeymoon island oleh PT. Anasia Nusantara Tangkong. Perusahaan asing itu akan menginvestasikan modalnya di Lobar sesuai dengan hasil presentasinya sebesar 1.550.000 dolar Amerika. ‘’Banyak investor yang sudah mengajukan proposal ingin membangun Lobar namun mereka tidak memiliki keseriusan seperti investor yang akan membangun Gili Tangkong ini. Yang tidak serius, terpaksa kita abaikan,” ujar Taufik seraya menambahkan saat ini Pemkab Lobar lebih berhati-hati memberikan rekomendasi kepada investor yang ingin masuk.

Seperti diketahui, ada beberapa gili di kawasan Sekotong yang sudah mulai dikembangkan investor, seperti Gili Asahan, Gili Layar, Gili Gede, Gili Rengit serta Gili Nanggu. (smd/SuaraNTB)

Selengkapnya.....

Senin, 23 Agustus 2010

Kesederhanaan Masjid Bayan Beleq

MENGUNJUNGI Pulau Lombok, beberapa tempat yang langsung terbayang di benak Anda mungkin Gunung Rinjani atau Pantai Senggigi. Namun cobalah datang ke kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, karena di sini Anda bisa menemukan salah satu jejak Islam di Pulau Lombok yaitu Masjid Bayan Beleq.

Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin tidak akan mengira bahwa bangunannya merupakan sebuah masjid. Ini karena ukurannya yang kecil yaitu 9 x 9 meter. Bentuknya-pun tergolong sederhana dan tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah sekitarnya.

Dinding-dinding masjid terlihat rendah dan terbuat dari anyaman bambu. Sementara bagian atapnya berbentuk tumpang yang disusun dari bilah-bilah bambu. Masuk ke dalam masjid, Anda akan mendapati batu kali yang menjadi fondasi lantainya. Fondasi ini dilapisi tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.

Di sudut-sudut ruang masjid terdapat empat tiang utama penopang masjid, yang terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder. Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid serta beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak.

Selain itu, di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk ini, terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurusi masjid ini sedari awal.

Meskipun nampak sederhana, Masjid Bayan Beleq sebenarnya merupakan masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok dan kecamatan Bayan sendiri memang terkenal sebagai salah satu pintu gerbangnya.

Keistimewaan lain yang dimiliki Masjid Bayan Beleq yakni telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Ini dikarenakan usianya yang lebih dari 300 tahun dimana masjid ini didirikan pada abad ke-17.

Dalam kesehariannya, Masjid Bayan Beleq kini tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masjid ini akan kembali ramai pada hari besar agama Islam. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad.

Di saat perayaan, Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung ini diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, semisal harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot, sapuk, dan lainnya.

Jika berminat mengunjungi situs religi ini, Anda bisa menuju Pulau Lombok dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum.

Namun, untuk kenyamanan berwisata, ada baiknya Anda menggunakan kendaraan sewaan. Selain bisa berhenti di beberapa tempat menarik di sepanjang jalan menuju Kecamatan Bayan, Anda juga dapat mengatur waktu kunjungan dengan lebih leluasa.(wikipedia/X-12)

Sumber: www.mediaindonesia.com

Selengkapnya.....

Sabtu, 31 Juli 2010

Kusir Cidomo Kenakan Pakaian Adat

Sebanyak 17 kusir cidomo di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (30/7), mulai mengenakan pakaian adat Sasak. "Pagi ini semua kusir cidomo di Senggigi menggunakan pakaian adat Sasak yang menjadi ciri khas mereka," kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lombok Barat M Djunaidi, di Giri Menang, Jumat.

Cidomo, singkatan dari cikar, dokar, motor. Kendaraan yang ditarik seekor kuda itu merupakan alat angkut tradisional yang dilestarikan daerah itu. Khusus di cidomo di Senggigi, mendapat pelat nomor dari 1 sampai 17 dengan seri Kawasan Wisata Senggigi (KWS).

"Setelah menggunakan pakaian adat dan didukung dengan kondisi beberapa aksesoris cidomo, angkutan itu menjadi menarik bagi wisatawan. Semoga mereka senang berkeliling Senggigi menggunakan cidomo," katanya.

Namun, kata Djunaidi, kendati cidomo ini sudah dipermak sedemikian rupa, tapi tarif yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan anggota lainnya tidak akan naik, karena disesuaikan dengan jarak tempuh.

"Itu dimaksudkan untuk menjaga kepercayaan para wisatawan terhadap keberadaan mereka," katanya.

Untuk mengoptimalkan 17 cidomo itu, kata dia, ada rencana menyiagakan mereka di beberapa hotel.

Karenanya, dalam waktu pemda akan melakukan komunikasi dengan beberapa pengusaha hotel berbintang untuk menjalin kerja sama.

"Bila perlu cidomo akan dilengkapi dengan sarana telepon seluler agar memudahkan komunikasi seperti halnya taxi," katanya.

Menurut dia, program pencanangan kusir cidomo berpakaian adat di KWS ini merupakan program percontohan, yang jika berhasil pihaknya akan mengembangkan program serupa ke kawasan wisata Banyu Mulek.

Sebelumnya, guna mendukung program "aku cinta bersih" di daerah itu, Dishub juga sudah membagikan 800 kantong kotoran kuda ke kecamatan, sesuai dengan potensi cidomo yang ada.

Dalam pelaksanaanya kusir akan diawasi oleh para camat dan kepala desa, sehingga kusir yang tidak memasang kantung kotoran akan diberikan sanksi teguran hingga penyitaan jok cidomo. (Gatra)

Negosiasi lahan bay-pass BIL masih buntu

Posted: 30 Jul 2010 01:37 AM PDT

Lombok Tengah [Sasak.Org] Negosiasi kesekian kalinya pembebasan lahan seluas 3,2 hektar milik warga untuk bypass menuju Bandara Internasional Lombok di Desa Batujai tetap menemui jalan buntu. Padahal, negosiasi tim sembilan bentukan Pemkab Lombok Tengah sudah enam kali, tetapi kedua pihak sama sama mempertahankan penawarannya masing masing, kata Kasubag Otonomi Desa Supardan, mewakili Kabag Tata Pemerintahan Setda Lombok Tengah, Jumat (30/7/2010).

Pemkab Lombok Tengah menawarkan harga tanah sawah Rp 15 juta dan harga lahan pekarangan dan bangunan Rp 20 juta, sedangkan pemilik menawarkan Rp 30 juta untuk tanah sawah dan Rp 40 juta untuk pekarangan dan bangunan.

Ia mengatakan, sejauh ini upaya negosiasi sudah maksimal, tetapi tetap saja mentok. "Sampai saat ini kita sudah negosiasi ke enam kali namun menemui jalan buntu," ujarnya.

Sumber: Kompas, dikutif dari Sasak.Org

Selengkapnya.....

Sabtu, 24 Juli 2010

Peresean, Adu Kekuatan Fisik Ala Lombok

Pada sebuah sore yang hangat di Lapangan Monjok Selaparang, Mataram, Lombok, ratusan orang, mulai balita hingga orang tua berkerumun, di sekitar pagar bambu setinggi lutut orang dewasa berbentuk segi empat ukuran 20 meter x 20 meter.

Ya, sepertinya sebuah arena pertempuran mengadu kekuatan fisik telah disiapkan di lapangan itu. Dua pasang perisai dan penjalin rotan pun telah ditata sedemikian rupa di tengah-tengah arena.

Iringan musik gamelan Lombok yang dimainkan secara langsung oleh sekitar 10 orang secara bergantian di salah satu sudut lapangan seolah mampu menyulutkan adrenalin setiap orang yang datang ke lapangan itu dan tanpa rasa takut, mengadu kekuatan mereka.

Tak lama kemudian, tiga orang pria separuh baya masuk ke arena pertempuran dan mengajak pemuda-pemuda gagah yang datang ke lapangan itu untuk mengadu kekuatan.

Tanpa ada rencana apapun sebelumnya, pemuda-pemuda itu pun secara suka rela menerima tantangan untuk mengadu kekuatan fisik dengan cara saling memukulkan penjalin ke badan lawan.

Kegiatan adat yang sudah berlangsung turun-temurun melewati generasi demi generasi itu dikenal dengan nama peresean, atau saling membentengi diri dari serangan lawan dengan menggunakan perisai atau ende dalam bahasa Sasak, suku asli Lombok.

"Dalam peresean ini, masing-masing lawan tidak tahu akan menghadapi siapa di arena pertandingan, karena semuanya dilakukan secara spontan, saat itu juga," kata Lurah Monjok Budi Wartono.

Lecutan penjalin yang diayunkan sekuat tenaga oleh petarung-petarung yang disebut pepadu di tengah arena itu menyihir penonton untuk tidak beranjak dari pinggir lapangan. Semakin sore, penonton semakin banyak.

Bilur-bilur merah di punggung dan juga pundak akibat terkena pukulan penjalin seolah sudah tidak lagi dirasakan oleh pepadu yang berada di arena.

"Mereka hanya boleh memukul daerah pinggang ke atas termasuk kepala. Jika kena kepala, maka biasanya pepadu akan langsung dinyatakan menang karena lawan sudah tidak lagi berdaya melanjutkan pertandingan," kata lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) 2000 itu.

Selama menyelenggarakan peresean, cedera terparah yang pernah dialami peserta adalah harus menerima 18 jahitan di kepala.

"Mereka tidak akan menuntut panitia karena hal itu. Luka yang mereka dapat adalah resiko yang harus mereka tanggung sendiri. Biasanya mereka malu jika harus mengadu, karena akan dianggap tidak jantan," katanya.

Ia menyatakan, sebelum bertarung di arena, panitia harus memastikan bahwa di antara pepadu tidak ada dendam sebelumnya.

"Ini adalah pertarungan tanpa dendam dan tidak boleh ada dendam di luar arena pertandingan," katanya.

Selama bertarung, seluruh pepadu wajib mengenakan atribut khas peresean, yaitu kain sarung yang dililitkan di pinggang sepanjang lutut dan juga mengenakan ikat kepala.

Pada peresean di Lapangan Monjok yang digelar untuk menyambut HUT ke-17 Kota Mataram tersebut, panitia tidak menyiapkan hadiah istimewa, tetapi sekadar tali asih berupa uang Rp 20.000 bagi yang kalah dan Rp 25.000 untuk pemenang.

Peresean semula ditujukan sebagai ritual untuk meminta hujan, namun saat ini peresean lebih banyak dilakukan untuk memperingati hari-hari tertentu seperti Hari Ulang Tahun Kota Mataram, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau menjelang puasa.

"Antusiasme masyarakat tetap tinggi meskipun ini adalah tradisi yang biasanya sering terlupakan, karena kemenangan yang diperoleh dari ajang peresean ini akan turut mengangkat derajat dan gengsi seorang laki-laki," katanya.

Bagi seorang pepadu yang sudah disegani di masyarakat berjuluk Piring Nadi, tradisi peresean harus tetap dipertahankan agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

"Saya sudah mulai mengenal tradisi ini sejak kelas dua sekolah dasar hingga kini saat saya duduk di bangku kuliah," kata Piring Nadi yang bernama asli Supardi (26).

Ketertarikannya untuk mempelajari peresan bermula dari ayahnya, seorang pepadu yang disegani pada jamannya. "Saya merasa bangga dapat menjadi pepadu karena lebih disegani di tengah masyarakat," lanjutnya.

Selain mengadu kekuatan fisik, ia tidak menampik apabila tradisi peresean tersebut juga menjadi ajang untuk mengadu ilmu yang berdasarkan pada mantra-mantra.

"Jika sudah sangat kuat, seorang pepadu bahkan tidak harus mengeluarkan tenaga fisik untuk mengalahkan lawannya, misalnya dengan membuat penjalin yang semula sangat keras itu menjadi lembek," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Mataram Alwi menyatakan, Kota Mataram berencana untuk mengembangkan peresean tersebut menjadi objek wisata bagi wisatawan. "Saat ini memang belum dikemas seperti itu, tetapi rencana ke arah sana pasti ada," lanjutnya.(Eka Arifa Rusqiyati)

Sumber: Kompas

Selengkapnya.....

Kamis, 22 Juli 2010

Sade Raih Penghargaan Desa Wisata

Desa Sade yang dihuni suku Sasak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, berhasil meraih penghargaan nasional sebagai desa wisata yang mampu melaksanakan gerakan sadar wisata dan aksi sapta pesona.

"Desa Sade berhasil menjadi juara harapan satu pada lomba desa wisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, HL Jazuli Azhar di Praya, Lombok Tengah, Selasa (20/7/2010).

Sementara itu, peraih penghargaan desa wisata pertama adalah Desa Karang Banjar, Kecamatan Bojongsari Tengah, Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah. Pemenang kedua Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Peraih penghargaan ketiga adalah Desa Wisata Kebon Agung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Jazuli, penghargaan desa wisata tersebut diserahkan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Firmansyah Rahim di Jakarta, Minggu (18/7/2010).

Desa Sade mendapat penghargaan setelah berhasil menyisihkan 59 desa lainnya dari 25 provinsi di Indonesia. "Kita cukup bangga dengan prestasi ini, meskipun kita juara harapan," kata Jazuli.

Kriteria yang dinilai pada pemberian penghargaan desa wisata ini diantaranya kegiatan masyarakat yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan usaha kepariwisataan dan mampu menciptakan manfaat bagi kesejahtraan masyarakat.

Selain itu, penerapan nilai nilai sapta pesona di desa wisata dan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan serta memiliki propek pertumbuhan usaha masyarakat yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan kepariwisataan.

Dari empat kriteria yang dinilai tersebut, lanjutnya, hampir seluruh aspek penilaian sudah dipenuhi. Beberapa kelemahan masih ada, seperti kelengkapan data dan keorganisasian. "Ke depan harus kita benahi bersama segala kekurangan itu," kata Jazuli.

Sumber: Sasak.org

Selengkapnya.....

Sabtu, 26 Juni 2010

Pariwisata KLU Bisa Kalahkan Lobar

Potensi pariwisata Kabupaten Lombok Utara (KLU) dinilai begitu besar. Jika dikelola dengan baik dan benar, bukan mustahil pariwisata Lombok Utara akan mengalahkan induknya Lombok Barat (Lobar). Karena itulah, sarana dan prasarana pendukungnya harus segera dibangun agar potensi yang begitu besar tersebut dapat memberikan manfaat bagi KLU. Mantan Anggota DPRD Lombok Barat Drs. Raden Miling mengatakan hal itu, Kamis (24/6) kemarin.


Selain potensi alamnya seperti tiga gili (Meno, Trawangan dan Air) dan potensi alam Gunung Rinjani, Lombok Utara, juga memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang sangat bagus. Masyarakatnya sangat terbuka dan familiar terhadap wisatawan (tamu) Begitu juga dengan keamanannya. ‘’Ini juga potensi yang sangat luar biasa. Ini modal utama untuk mengembangkan pariwisata. Karena itu, jika Lombok Utara dikelola dengan baik, saya optimis pariwisata di daerah ini akan maju dengan pesat. Bisa jadi mengalahkan induknya (Lobar),’’ kata Raden Miling seraya menambahkan, setelah menjadi kabupaten yang berdiri sendiri, PAD (Pendapatan Asli Daerah) Lombok Utara naik drastis, bahkan sudah mencapai Rp 10 miliar lebih. ‘’Kami berharap siapa pun nanti yang menjadi bupati/wakil bupati Lombok Utara, dapat mengembangkan potensi ini dengan baik dan benar sehingga apa yang dimiliki Lombok Utara dapat memberikan mafaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan warga setempat,’’ katanya.

Raden Miling mengatakan, perkembangan Lombok Utara, mau tidak mau, berdampak terhadap naiknya harga tanah di wilayah Lombok Utara, termasuk di Bayan. ‘’Harga tanah juga uikut naik. Sekarang tanah sudah mahal di Lombok mUtara,’’ katanya seraya mengatakan, kenaikan harga tanah berimplikasi positif terhadap kemajuan Lombok Utara.

Sumber: Sasak.org

Selengkapnya.....

Rabu, 23 Juni 2010

Gili Meno

Suasana Gili Meno, sangat kontras dengan dua gili di sebelahnya yaitu Gili Air dan Gili Terawangan. Kalau untuk mencari ketenangan dengan suasana pantai pasir putih dan tidak bising dengan suara musik club, nampaknya pulau kecil ini lebih cocok buat liburan. Gili Meno adalah salah satu dari tiga pulau kecil yang sering disebut GILI INDAH. Ketiga gili andalan pariwisata Lombok ini berada di wilayah kabupaten Lombok Utara, sebuah kebaupaten baru yang dimekarkan dari Lombok Barat, NTB.

Selengkapnya.....

Selama Masih Bermasalah Pemerintah Tidak akan Terima Proyek BIL

Adanya temuan Komisi III DPRD NTB mengenai sejumlah persoalan pada pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) mendapat respons dari Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, MA. Gubernur NTB usai menghadiri Hari Krida Pertanian dan membuka Pekan Hortikultura di Monumen Bumi Gora Mataram, Senin (21/6) kemarin, menegaskan, pemerintah tidak akan menerima hand over (penyerahan) dari kontraktor, jika pemerintah sudah memastikan pengerjaan seluruh fasilitas di BIL tidak ada masalah.


‘’Nanti dari pekerjaan ada hand over atau penyerahan. Pemda, tidak akan menerima hand over, kecuali memastikan proses seluruh yang terkait dengan pekerjaan (BIL) berlangsung dengan baik,’’ tegasnya.

Dalam hal ini, ungkapnya, pihaknya sudah memastikan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB Ir. Ridwansyah, MTP, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Ir. Dwi Sugiyanto, MM, melihat secara keseluruhan apa yang menjadi catatan DPRD di lapangan. Paling tidak, harapnya, dari kunjungan lapangan dan pengawasan yang terus dilakukan bisa menjadikan BIL memenuhi sertifikasi teknis yang disyaratkan menjadi bandara bertaraf internasional.

Di tempat terpisah, di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Asisten II (Perekonomian dan Pembangunan) Setda NTB H. Muhammad Nur, SH, MH, Kepala Dishubkominfo NTB Ir. Ridwansyah, MTP, Kepala Dinas PU NTB Ir. Dwi Sugiyanto, MM, dan Deputi Direktur Pengawasan Konstruksi BIL PT. AP I, Ir. Marsidi, mengadakan pertemuan singkat. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Dishubkominfo NTB Ridwansyah, menjelaskan, total pendanaan pembangunan BIL mencapai Rp 829 miliar.

Di mana, katanya, pekerjaan run way, terminal, fasilitas operasional dan bangunan lain menelan dana sebesar Rp 679 miliar yang dikerjakan PT. Angkasa Pura I. Sementara, pembangunan taxi way, apron dan fasilitas penunjangnya, senilai Rp 110 miliar, dikerjakan Pemprov NTB. Pekerjaan lain, seperti areal parkir, jalan lingkungan dan fasilitas penunjangnya senilai Rp 40 miliar dikerjakan Pemkab Lombok Tengah.

Ketiga aspek dalam pengaturan pembangunan BIL, lanjut pejabat yang baru dilantik beberapa waktu lalu ini, akan dikaji secara mendalam, sehingga seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai yang direncanakan

Dari sisi kajian teknis, lanjutnya, pekerjaan run way, apron dan sarana prasarana lainnya sudah berjalan baik dan memenuhi standar kelayakan. Keseluruhan hasil pekerjaan sudah melalui serangkaian pengujian, baik pengujian tanah, beton, kualitas apron dan run way maupun pengujian yang terkait dengan kelayakan BIL. Bahkan, tegasnya, dinyatakan run way, taxi way dan apron sudah memenuhi standar klasifikasi.

Hal ini dilihat dari hasil tes PCN (Pavement Classification Number), sebuah metode penghitungan untuk mengukur kekuatan/kelayakan landasan pacu dan fasilitas lainnya, dilaksanakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan peralatan HWD, menghasilkan nilai, PCN run way sebanyak 56, PCN taxi way dengan nilai 54 dan PCN apron dengan nilai 72.

Selain itu, lanjutnya, tes ini juga menghasilkan asumsi annual departure mencapai 5.288 pesawat. Dari nilai PCN run way yang mencapai 56, pada kenyataannya melebihi dari PCN yang direncanakan sebesar 46 (untuk pesawat jenis Boeing 737 dan sejenisnya), sehingga disimpulkan runway BIL layak untuk didarati jenis pesawat Boeing 747 – 400 yang hanya membutuhkan nilai PCN 53.

Mengenai adanya pemberitaan media dan hasil peninjauan DPRD NTB, tentang kualitas pekerjaan khususnya ada keretakan beberapa titik, dijelaskan bahwa keretakan yang ada terjadi pada shoulder (bahu) run way. Di mana, katanya, shoulder run way tidak mempunyai fungsi struktur untuk menahan beban pesawat, namun berfungsi sebagai pendukung run way, khususnya untuk melindungi run way dari rintisan air hujan atau bisa juga berfungsi untuk tempat pemasangan lampu.

Di sisi lain, Kepala Dinas PU NTB, Dwi Sugiyanto, menegaskan dalam melakukan pengecekan fisik di lapangan, akan dibentuk tim. Dari Dinas PU NTB, lanjutnya, akan menerjunkan tim dari Bina Marga dan Cipta Karya. Pelaksanaan pengecekan fisik dimaksudkan bukan mengintervensi pada ranah tanggung jawab PT. AP I, namun hal ini dilakukan untuk menyelaraskan berbagai hal yang terkait dengan BIL.

Menanggapi hal ini, Deputi Direktur Pengawasan Konstruksi BIL PT. AP I, Ir. Marsidi, mengaku, dari dana Rp 679 miliar yang dikerjakan PT. AP I, yang masih terkendala adalah pada proses pembangunan terminal. Di mana pada kontrak awal senilai Rp 137 miliar lebih, ternyata saat ini masih ada pekerjaan tambahan, seperti perubahan drop off atap, penggantian material lantai ke jenis marmer, perubahan fungsi lantai tiga dari waving gallery menjadi executive lounge, serta penggantian jenis kaca dinding yang lebih aman.

Untuk itu, saat ini sedang dihitung berapa besar biaya tambahan yang dibutuhkan, dan PT. AP I akan bekerjasama dengan BPKP Bali untuk pengawasan pekerjaan tambahan tersebut nantinya. Sementara untuk run way BIL sepanjang 2.500 m telah diserahkan pada bulan Juni 2009 dan ada penambahan 250 m telah pula diserahkan pada bulan Oktober 2009. Pada saat penyerahan hasil pekerjaan dari rekanan ke PT. AP I, semua dalam kondisi yang layak, baik hasil tes oleh konsultan supervisi yang menyimpulkan BIL layak didarati pesawat Boeing 747-400 dari yang semula direncanakan pesawat jenis Boeing 737.

Pada kesempatan ini, pihaknya ingin menegaskan, jika keretakan yang muncul ada di bahu run way dan bukan pada run way. Meski demikian, keretakan pada bahu run way tersebut akan segera diperbaiki.

Sementara Asisten II Setda NTB, H. Muhammad Nur, meminta berbagai permasalahan yang muncul, harus ditindaklanjuti secepatnya. Termasuk, melakukan peninjauan lapangan, identifikasi permasalahan yang timbul, dan tindak lanjut penanganannya.

Ketiga pihak yang terkait dalam proses pembangunan BIL, baik Pemprov NTB, PT. AP I dan Pemkab Lombok Tengah, harapnya, harus secara konkrit dan berkesinambungan memberikan laporan kepada pimpinan daerah mengenai perkembangan pembangunan. Termasuk, melaporkan permasalahan dan tindak lanjutnya, sehingga bulan Desember 2010, BIL bisa operasi.

Sumber: Suara NTB dikuif dari Sasak.Org)

Selengkapnya.....

Senin, 21 Juni 2010

BIL Dicanangkan Beroperasi 17 Desember 2010

Kendati masih muncul banyak keraguan pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) akan tuntas tahun ini, namun Wakil Gubernur NTB, Ir.H.Badrul Munir, MM optimis BIL akan mulai beroperasi secara penuh menggantikan Bandara Selaparang, bertepatan dengan HUT Provinsi NTB yang jatuh 17 Desember 2010. ‘’Beroperasinya BIL mendatang, akan menjadi kado istimewa bagi HUT Provinsi NTB,” ungkap Wagub Jumat (18/6) siang kemarin disela-sela kunjungan mendadak ke lokasi mega proyek tersebut.


Wagub mengakui, beroperasinya BIL memang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Karena bagaimanapun juga, BIL saat ini telah menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat NTB pada umumnya. “Rencana tersebut juga menjadi salah satu bahasan Pak Gubernur bersama pemerintah pusat di Jakarta,’’ jelasnya.

Rencananya, BIL sendiri akan langsung diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Untuk memastikan, kesiapan peresmian sekaligus pengoperasian BIL ini nantinya, Wapres Boediono, direncanakan akan meninjau langsung pembangunan bandara tanggal 2 atau 3 Juli mendatang. Dan, rencana tersebut sudah masuk agenda kerja dari Wapres sendiri.

Disinggung capaian penyelesaian fisik bandara, Wagub mengungkapkan, secara umum fisik BIl sudah hampir rampung. Tinggal finishing beberapa bagian proyek saja. Sedangkan beberapa item proyek utama, seperti run way (landasan pacu), tax way, apron, lahan parkir, termasuk tower bandara sudah rampung pengerjaannya. Artinya, tinggal bebarapa bagian kecil proyek saja yang masih harus diselesaikan.

‘’Ibarat gadis, pakaian atau busananya sudah ada. Tinggal di make up saja,” guraunya. Namun meski kecil, pekerjan tersebut tidak bisa dipandang remeh. ‘’Karena kalau hasil make up-nya kurang bagus, jelas tampilannya juga kurang bagus. Sehingga memang harus perlahan. Agar tampilan BIL nantinya bisa benar-benar pas sesuai harapan,’’ tandasnya.

Ditanya kesiapan Pemprov NTB, Badrul, menegaskan, pihaknya sangat siap. Ia mengakui, saat ini memang ada beberapa persoalan yang masih mengganjal beroperasinya BIL. Terutama masalah ketersediaan sarana dan prasarana pendukung berupa jalan. Tapi wagub memastikan bahwa semua persoalan tersebut, akan bisa diselesaikan tepat waktu, bersamaan dengan mulai beroperasinya BIL bulan Desember mendatang.

‘’Untuk nama bandara, kita pakai tetap pakai nama Bandara Internasional Lombok (BIL) sebagai nama generiknya, sambil menunggu nama yang paten.’’ Diterangkannya, pemakaian nama BIL, untuk meminimalir perselisihan terkait nama bandara yang paling pas. Karena sebelumnya, sempat bermunculan berbagai usulan nama untuk bandara. “Kita tidak ingin berlarut-larut hanya karena persoalan nama bandara. Jadi kita tetap memang nama BIL untuk sementara,’’ jelasnya.

Sumber: Sasak.org

Selengkapnya.....

Jumat, 18 Juni 2010

Budaya Jadi Alat Pemersatu Bangsa

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan budaya bisa menjadi alat pemersatu bangsa, karena melalui kebudayaan antarwarga masyarakat akan semakin akrab.


"Untuk itu, setiap daerah perlu memperbanyak karnaval budaya, karena kegiatan tersebut dapat memperkokoh persatuan bangsa," katanya pada pelepasan karnaval budaya menyambut Festival Sriwijaya XIX Tahun 2010, di Palembang, Rabu.

Karnaval budaya yang diikuti 15 kabupaten dan kota itu, merupakan rangkaian kegiatan Festival Sriwijaya yang diselenggarakan setiap tahun.

Dalam pelepasan karnaval budaya itu juga digelar berbagai aktrasi budaya serta kesenian tradisional dari 15 kabupaten dan kota se Sumatera Selatan.

Lebih lanjut menteri mengatakan budaya juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, karena mereka ingin mengetahui keanekaragaman budaya nusantara.

Namun, yang lebih penting lagi melalui karnaval budaya bisa menjadi salah satu alat promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan karnaval budaya itu digelar sebagai serangkaian kegiatan Festival Sriwijaya sekaligus menyambut HUT Kota Palembang Juni 2010.

"Mendatang karnaval budaya dan Festival Sriwijaya akan dilaksanakan pada November 2011, bersamaan dengan pembukaan SEA Games," katanya.

Sumber: Antara

Selengkapnya.....

Kamis, 17 Juni 2010

Siswa Singapura Daki Gunung Rinjani

Sejumlah 41 siswa sekolah menengah pertama dari Singapura saat ini melakukan pendakian ke Gunung Rinjani melalui jalur pendakian Sembalun Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. M. Faisyal, petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Resor Sembalun, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 2, Lombok Timur, yang dihubungi melalui telepon dari Mataram, Rabu (16/6) malam, mengatakan puluhan siswa dari Singapura itu datang ke Lombok untuk melakukan pendakian bersama dua orang gurunya dengan menggunakan jasa wisata Lombok Network.


"Menurut informasi yang saya terima. Mereka tertarik untuk melakukan pendakian ke Gunung Rinjani sebagai pengisi waktu liburan sekolah. Memang siswa asal Singapura sering melakukan pendakian saat musim liburan," ujarnya. Ia mengatakan, puluhan siswa itu melakukan pendakian hingga ke Danau Segara Anak, namun mereka tidak diizinkan untuk mendirikan tenda di kawasan itu karena dikhawatirkan Gunung Barujari (Anak Gunung Rinjani) tiba-tiba mengeluarkan abu vulkanik.

Menurut dia, status waspada level dua saat ini belum diturunkan, sehingga para pendaki diimbau untuk tidak mendekati kawasan Danau Segara Anak. Namun, justeru kondisi itu menjadi daya tarik para wisatawan.

"Kita sudah mengimbau mereka. Para pemandu wisata yang mendampingi juga diingatkan untuk selalu memperingati wisatawan agar tidak melakukan hal-hal berbahaya," ujarnya. Faisyal mengarahkan agar puluhan siswa itu mendirikan tenda untuk bermalam di wilayah Pelawangan Sembalun yang berjarak sekitar 2,5 kilo meter dari titik letusan dari jalur Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur.

Menurut dia, para siswa sekolah menengah asal Singapura itu, hanya akan menginap satu malam di Pelawangan Sembalun, dan turun melalui jalur utara Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. "Informasi yang kita peroleh dari jasa wisata yang digunakan para siswa Singapura tersebut yakni Lombok Network, mereka hanya menginap semalam dan paginya turun melalui Senaru," katanya.

Ia menambahkan para pendaki Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian sekitar 3.726 meter dari permukaan laut (mdpl) diminta untuk waspada terhadap letusan Gunung Barujari (2.376 mdpl) karena hingga kini gunung api tersebut masih berstatus waspada level dua. "Statusnya memang masih level waspada dua. Tetapi aktivitasnya sudah mulai menurun tidak seperti beberapa waktu lalu yang sempat mengeluarkan asap dan abu vulkanik," katanya.


Sumber: Antara

Selengkapnya.....

Rabu, 28 April 2010

NTB Tuan Rumah Pertemuan Pariwisata Asia-Pasifik

Nusa Tenggara Barat akan menjadi tuan rumah pertemuan Kelompok Kerja Pariwisata Asia Pasifik atau Tourism Working Group (TWG) Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), yang dijadwalkan berlangsung 4-7 Mei mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, lalu Gita Ariadi, mengemukakan hal itu di Mataram, Selasa (27/4). Ia menjelaskan upaya NTB memperbanyak wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) demi kesuksesan program Visit Lombok Sumbawa (VLS) tahun 2012 dengan target satu juta wisatawan.

"TWG-APEC di NTB itu akan diikuti 20 ekonom dari negara Asia-Pasifik, 50 delegasi dan dua perwakilan World Tourism International Councill (WTIC)," ujarnya.

Dia menyebut negara-negara Asia-Pasifik yang akan hadir dalam TWG-APEC ke-36 di NTB itu antara lain Jerman, Amerika Serikat, Filipina, Thailand dan Vietnam. Dengan demikian, pertemuan internasional itu dipastikan akan menyedot kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik dalam jumlah banyak.

Selain meminta pemerintah pusat menggelar kegiatan di Pulau Lombok, pemerintah dan pelaku pariwisata di NTB juga menggelar beragam even yang dapat menarik wisatawan. Ariadi optimistis, kunjungan wisatawan ke wilayah NTB akan terus menunjukkan tren peningkatan hingga melebihi satu juta wisatawan di tahun 2013.

Pemerintah Provinsi NTB meningkatkan target kunjungan wisatawan pada 2010 menjadi 700.000 orang. Semula pihaknya menargetkan kunjungan wisatawan pada tahun ini 638.300 orang atau meningkat 15 persen dari target tahun 2009 yakni sebanyak 556.021 yang mengalami peningkatan 110 persen dari tahun 2008.

Namun, sejak dua tahun terakhir ini realisasi kunjungan wisatawan selalu melebihi target seperti kunjungan wisatawan tahun 2009 yang mencapai 619.370 orang atau melebihi target 556.021 orang itu. Dari 619.370 orang wisatawan itu, sebanyak 386.845 orang di antaranya merupakan wisatawan nusantara dan 232.525 orang wisatawan mancanegara.

"Target semula sebanyak 638.300 orang itu didasarkan pada hasil kalkulasi capaian kunjungan wisatawan di tahun 2009 yang melebihi target, namun karena Pak Gubernur menghendaki targetnya ditingkatkan maka kami pun optimis bisa menembus angka 700.000 itu," ujarnya.(Ant)

Selengkapnya.....

Minggu, 11 Januari 2009

Lombok Timur Miskin Investor

Berdasarkan informasi yang diperoleh WKS dari Kepala Bappeda Lombok Timur, Ir. H. Khalid Tarmizi terungkap bahwa sejak lima tahun terakhir ternyata tidak ada satupun investor yang mau menanamkan modalnya atau berinvestasi di kabupaten Lombok Timur. Kalaupun ada investor yang datang berkunjung mereka bukan mau menanamkan modalnya akan tetapi mereka lebih memilih untuk menjadi kontraktor saja.

“Memang banyak investor yang datang ke Lombok Timur untuk menanamkan modalnya namun tidak ada satupun yang terealisasi, tiba-tiba mereka membatalkan niatnya tersebut dan tidak sedikit akhirnya mereka memilih untuk menjadi kontraktor” ungkap Khalid. Ketika ditanya masalah penyebab para investor tersebut membatalkan niat mereka untuk berinvestasi di Lombok Timur, Khalid mengaku tidak tahu pasti namun menurutnya salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena Peraturan Daerah (Perda) No. 11 tahun 2006.

Disampaikan oleh Khalid, beberapa waktu yang lalu ada investor yang ingin berinvestasi di bidang pertambangan yakni tambang pasir besi di wilayah Pringgabaya, akan tetapi rencana investasi tersebut batal karena pelaksanaannya terbentur dengan Perda No. 11 tahun 2006 yang dibuat oleh Pemprov NTB tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) NTB.

Didalam Perda tersebut mengatur bahwa di wilayah Lombok tidak diperbolehkan adanya lokasi penambangan Golongan B, sedangkan yang diperbolehkan hanya penambangan golongan C saja “sepengetahuan saya itulah salah satu penyebabnya tidak ada investor yang mau dan bisa berinvestasi di Lombok Timur” tambahnya.

Menurutnya saat ini Pemkab Lombok Timur beserta Pemkab lainnya sedang memperjuangkan agar Perda tersebut bisa direvisi karena Perda tersebut dapat menutup peluang investor untuk berinvestasi. Ketika disinggung masalah keamanan yang mungkin juga menjadi penyebab tidak adanya investor, oleh Khalid langsung dibantahnya. Menurutnya kondisi keamanan Lombok Timur sangat aman bahkan bisa dikatakan paling aman di seluruh NTB “Lombok Timur sangat aman untuk berinvestasi, buktinya selama ini tidak pernah ada kejadian-kejadian yang dapat mengganggu para investor” ungkapnya mengakhiri [WKS-4]

Sumber: www.sasak.org

Selengkapnya.....

Biaya Pembangunan BIL Membengkak

Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) saat ini terus di kebut, diharapkan dengan dikebutnya pembangunan BIL tersebut pada awal tahun 2010 nanti sudah dapat dioperasikan. Hal tersebut disampaikan Deputi Direktur Pengawasan Konstruksi PT. Angkasa Pura I, Marsidi kepada WKS di ruang kerjanya pada Rabu (7/1) kemarin.

Dijelaskan juga olehnya bahwa dalam pembangunannya BIL di buat sedemikian rupa sehingga nuansa Lombok dan Sasak akan sangat menonjol seperti contohnya di beberapa ruas akan dibuat lumbung-lumbung khas Sasak. Ketika di Tanya mengenai sejauh mana perkembangan pembangunan BIL sampai saat ini, Marsidi menjelaskan khusus untuk Run Way akan dibuat sepanjang 3 Km, namun untuk tahap awal pembangunannya akan dibuat sepanjang 2,7 Km dengan lebar 45 m dengan 2 Taxi Way dan 1 Apron dengan luas 50.000 m persegi yang dapat menampung sekitar 10 pesawat berbadan besar.

Sementara itu untuk terminal-nya dibuat 3 lantai dengan luas mencapai 20.000 m persegi. Diungkapkan oleh Marsidi mengenai pembiayaan pembangunan BIL ini, PT. Angkasa Pura bersama Pemkab Lombok Tengah dan Pemprov NTB telah menyiapkan dana sebesar Rp. 665 miliar, baik PT. Angkasa Pura, Pemkab Lombok Tengah maupun Pemprov NTB telah memiliki tugas masing-masing.

Perincian pendanaan pembangunan BIL tersebut yaitu dari PT. Angkasa Pura sebesar Rp. 515 miliar, Pemka Lombok Tengah Rp. 40 miliar dan Pemprov NTB sebesar Rp. 110 miliar. Sedangkan perincian tugasnya adalah Pemprov NTB mengerjakan Taxi Way dan Apron serta akses penunjangnya, untuk Pemkab Lombok Tengah mengerjakan areal parkir kendaraan, jalan masuk dan jalan inspeksi, sedangkan sisanya akan dikerjakan oleh PT. Angkasa Pura.

Namun diungkapkan oleh Marsidi dengan adanya kenaikan BBM dan krisis Global pada akhir tahun 2008 lalu menyebabkan dana yang diperlukan untuk pembangunan BIL tersebut membengkak dari Rp. 665 miliar menjadi Rp. 802 miliar sehingga secara otomatis PT. Angkasa Pura harus menambah dananya dari Rp. 515 miliar menjadi Rp. 644 miliar, Pemkab Lombok Tengah dari Rp. 40 miliar menjadi Rp. 41 miliar dan Pemprov NTB dari Rp. 110 miliar menjadi Rp. 117 miliar.

Mengenai realisasi pembangunan sampai saat ini Marsidi menjelaskan persiapan dan Leand Clearing sudah mencapai 100 persen, Run Way serta penunjang lainnya dikerjakan oleh PT. Hutama Karya telah mencapai 58 persen, Terminal dan penunjang lainnya dikerjakan oleh PT. Slipi Raya telah mencapai 17,4 persen, Apron dan penunjang lainnya yang dikerjakan oleh Pemprov NTB telah mencapai 8 persen dan lahan parkir serta penunjangnya yang dikerjakan oleh Pemkab Lombok Tengah baru mencapai 4 persen.

Diakhir penjelasannya Marsidi berharap walaupun capaian persentase pembangunan BIL tersebut belum maksimal namun diharapkan seluruh proses pembangunannya bisa selesai pada akhir tahun 2009 dan bisa dioperasikan pada awal tahun 2010 nanti “saya berharap tidak ada kendala lagi, saya berharap semua pihak terutama masyarakat sekitar ikut mendukung” harapnya. [WKS-3]

Sumber: www.sasak.org

Selengkapnya.....

Rabu, 07 Januari 2009

Naik Cidomo? Kenapa Tidak?

Well, banyak nostalgia yang lantas kembali menyeruak di kepala saya tatkala mengingat sarana transportasi yang satu ini. Kami orang sasak, mengenalnya dengan nama Cidomo (orang Desa Teros : Cimodok). Kependekan dari Cikar, Dokar dan Montor(montor==mobil). Tenaga yang dihasilkan mesinnya setara dengan 1 HP (Horse Power), hehe just bejorak meton :mrgreen: , kendaraan ini memang ditarik satu ekor kuda laiknya dokar. Rodanya diambil dari bekas roda montor, assembly-nya mirip dengan cikar (gerobak) yang diberi atap. That's where the name came from, SITMTP (Silak Ingetang Tiang Mun Tiang Pelih).

The Look
Kendaraan ini didesain untuk satu kusir dan 5 penumpang (6 seaters). Namun seperti angkutan umum lainnya, bila anda cukup punya nyali dan merasa kudanya cukup sehat dan kuat untuk tambahan beban, anda dapat menambah satu seat dengan bergelantungan di belakang, atau dua lagi di samping. Kudanya diberikan "kacamata" khusus agar pandangannya selalu ke depan, agar tidak terganggu dengan kuda-kuda lain yang mungkin sedang berpose di pinggir jalan. Kusirnya mengendalikan kuda dengan voice command (herr, hek, ck, heiyya, dam dam) ditambah bantuan senjata yang biasa dipakai para sadokis dan kita biasa kenal dengan nama pecut. Bagaimana dengan klakson? Alat sederhana berbentuk terompet mini dengan pangkal yang bisa diremas untuk memompa udara, mirip pemompa asi :D. Lampu? Hehehe, entah kalau ada bengkel modifikasi cidomo yang menyediakan lampu, saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat adalah saya pernah hampir menabrak cidomo dengan sepeda motor karena waktu malam hari dan cidomonya tidak memakai lampu - Cidomo jarang yang beroperasi malam hari -. Kalau Spion? Untungnya Cidomo punya paket spion lengkap, kiri, kanan dan belakang, ini jelas sebagai kompensasi karena kudanya sendiri diberikan "kacamata" khusus tadi.

The Experience
Dulu semasa masih kanak-kanak, menaiki cidomo adalah pengalaman yang menarik. Nggak ada rem, nggak ada gas, apalagi gigi dan kopling :). Maju, mundur dan berhentinya kendaraan ini benar-benar bergantung pada keterampilan pak kusir yang mengendalikan kuda (dan tentunya mood si kuda :D). Jika kebetulan menaiki cidomo dengan kuda yang masih "muda" dan agak "binal", kita akan mendapatkan perjalanan yang cukup memacu adrenalin, apalagi bila ditambah dengan kondisi jalan yang memang tidak rata, kusir yang juga sebinal kudanya, dan posisi duduk di samping kusir -hanya saja dari posisi ini bau pup kuda dapat tercium jelas, tapi saya jamin ini lebih sehat dari asap knalpot, atau rokok kusirnya-. Kami biasa menaiki cidomo untuk pergi ke pasar, sawah, dan bahkan pantai. Saat itu angkutan umum (biasa kami sebut mikrolet) masih cukup jarang, sepeda motor pun masih dimonopoli oleh orang-orang berada (in contrast to these days, where you can get a two wheelers credit for only 300K down payment).

The P(up)roblem
Masalah utama yang timbul dengan penggunaan cidomo tidak jauh-jauh dari polusi tah* kuda. Namun karena polusinya masih bersifat organik, yang terserang hanya mata dan hidung. Cidomo tidak ikut berperan dalam pelubangan ozon dan mencairnya es di kutub (Al Gore dan rekan-rekan di Greenpeace pasti menyukai alat tranportasi ini). Dan mungkin dengan inovasi kantung pup yang benar, masalah ini akan bisa teratasi (ine tantangan jok para inovator sasak). Ada lagi yang bilang kalau cidomo itu susah diatur di jalan raya, kalau ini tentunya "cuma" masalah penegakan hukum. Kalau para aparat tidak takut menilang kusir (atau kuda?) yang nakal, kemungkinan besar masalah ini akan bisa diatasi.

Now & Future
Saat ini di beberapa lokasi posisi cidomo masih tidak tergantikan sebagai alat transportasi di sentra ekonomi rakyat. Di Lombok Timur misalnya, meski tidak sebanyak dulu, pasar-pasar masih dipenuhi oleh angkutan yang satu ini. Tampaknya rute angkutan umum yang tidak bertambah sejak tahun 80an berperan besar pada pelestarian angkutan ini. Mungkin hanya ojek sepeda motor yang belakangan mampu tumbuh menjadi pesaingnya, dan secara kapasitas payload (penumpang+bagasi, duh kayak pesawat saja) tentunya cidomo masih menang dibandingkan ojek. Sampai kapan angkutan ini eksis? Entah, lambat laun, disukai atau tidak angkutan ini akan menghilang. Mungkin hanya akan tersisa di museum, atau dengan skenario yang lebih baik, hanya tersedia untuk keperluan wisata, laiknya delman atau andong di beberapa lokasi pariwisata di pulau jawa (wien)

Sumber: www.sasak.org

Selengkapnya.....

Kamis, 17 Juli 2008

Melongok Dusun Sade dari Dekat, Pariwisata Budaya yang Kurang Perhatian

Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) merupakan dusun yang masih tetap memegang teguh tradisi Sasak asli. Dusun yang dikenal dengan bangunan rumah adat ala Sasak asli sebagai ciri khas ini, dirasa tidak asing lagi. Inilah pariwisata kebudayaan, namun kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya kurang mendapat perhatian dari pemangku kepentingan. Bagaimana keadaannya kini?

DUSUN yang tidak jauh dari tempat rencana Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) ini memang menjadi salah satu maskot pariwisata budaya yang dimiliki NTB khususnya Loteng. Berbagai macam budaya asli Sasak yang tidak ditemukan di daerah lain, masih utuh dalam keseharian warga di sana.

Mulai dari bangunan rumah yang beratap ilalang. Kemudian bentuk bangunan tua dengan pintu yang lebih pendek dari pemiliknya (orang dewasa), sehingga ketika masuk harus menunduk. Bentuk bangunan ini sangat berbeda jauh dengan bentuk rumah masyarakat kebanyakan. Bangunan lumbung-lumbung desa yang menjadi ikon Lombok pun bisa ditemukan di tempat ini. Ingin mencari filosofi orang Ssasak asli? Jawabannya adalah tempat unik yang kaya budaya ini.

Selain itu, beragam pakaian asli Sasak yang dikerjakan tangan-tangan terampil wanita Sade ada di dusun itu. Kain-kain yang ada, merupakan kain tradisional sesekan (tenun) yang ditenun sendiri dengan alat sederhana dan tradisional. Tidak hanya itu, warga setempat juga bisa membuat aksesoris berupa gelang, kalung dan sebagainya.

Inaq Miaqim (40) salah seorang warga Dusun Sade mengaku bahwa desa ini, belakangan kurang begitu mendapat perhatian. Baik dalam hal pengadaan infrastruktur sebagai penunjang pariwisata maupun upaya mempertahankan budaya yang terpendam di dalamnya.

Janda empat anak yang sehari-hari menenun ini (nyesek-Bahasa Sasak) mengatakan desa ini masih sangat kekuarangan air bersih. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Sumur-sumur warga yang menjadi sumber air bersih, sejak sebulan terakhir. masyarakat telah sebulan terakhir mulai mengering.

Sementara, janji pemerintah katanya hanya sebatas janji. Hingga sekarang belum juga terealisasi. Dengan logat Sasak Dusun Sade yang khas, Miaqim menambahkan, sebulan terakhir ini, warga terpaksa antre di buwun (sumur) tempat pengambilan air bersih. Ia berharap besar agar janji membangun sarana air bersih itu segera terealisasi.

‘’Edak pam lek te, (tidak ada perusahaan air minum yang masuk ke sini),’’ keluhnya. Padahal yang paling dikhawatirkan Miaqim, ketiadaan air membuat dia harus berhati-hari menyalakan perapian. Pasalnya jago merah dinilai terus mengintai atap rumah yang memang sangat mudah terbakar.

Tentunya tidak diinginkan Miaqim kasus tahun 2006 lalu terulang di Sade. Si jago merah di masa itu telah membakar sebagian Kampung Sade yang akhirnya sekarang beralih menggunakan genteng untuk atap rumahnya. Kejadian di tahun 2006 lalu membuat Miaqim sebenarnya sangat ingin membangun rumahnya dengan beratap genteng. Namun karena ingin mempertahankan keaslian Dusun Sade serta adanya imbauan pemerintah, Miaqin pun tunduk.

Kepatutannya terhadap perintah pemerintah membuat ia terus bertahan, di samping juga karena pertimbangan untuk mempertahankan ciri khas dusun padat yang terdiri dari 250 Kepala Keluarga (KK) dengan luas 5 hektar ini.

Benar saja, dari pantauan Suara NTB rumah-rumah yang dibangun di perbukitan ini terlihat minim air. Ironisnya lagi, di tempat peribadatan penduduk saja, telihat banyak debu yang berterbangan. Meskipun nuansa premitif muncul di tempat penduduk yang rata-rata bisa menenun ini, namun kesan kurang nyaman muncul dari pengunjung. Daniel salah satu turis Australia mengakui, Kampung Sade sangat menarik. Namun ia mengeluhkan banyak debu.

Hal lain yang menimbulkan keprihatinan yakni tradisi andalan warga dusun itu nyaris punah ditelan zaman. Pasalnya, arus globalisasi yang semakin menggerogoti tidak didukung dengan upaya mempertahankannya.

H.L. Putria, selaku pemangku adat dan budaya di Loteng mengaku budaya Sasak yang terpendam di Dusun Sade sedikit tergerus arus. Budaya yang menjadi kekayaan tiada tara itu, sedikit mengalami pergeseran.

Upaya mempertahankan tradisi khas Lombok tersebut, dikatakan Putria memang menjadi kewajiban masyarakat. Hanya saja, dukungan dari pemerintah semestinya terus ditingkatkan. Terus mempertahankan kearifan lokal merupakan keinginan mulya. Namun tanpa dukungan pemerintah, upaya itu akan sia-sia.

Terkait hal itu, kesempatan terpilihnya gubernur baru mambuat ia menaruh harapan besar. Ia mengatakan budaya dan agama harus bisa dijalankan secara beriringan. Tidak diinginkan kedua elemen yang sudah melekat erat di masyarakat adat diperlakukan pincang.
Kekayaan budaya karya urip (seperti pernikahan, kikir gigi) dan karya pati (seperti nyusur kubur, nelu, nyiwak dan sebaginya) yang dimiliki masyarakat harus terus dipertahankan.

Sumber: Suara NTB

Selengkapnya.....

NTB Memerlukan Design Marketing

NTB yang kaya akan potensi alam patut menjadi kebanggaan. Sektor pertanian, pariwisata dan bahkan tenaga kerja menjadi andalan selama ini. Namun demikian, potensi yang ada dinilai belum menciptakan nilai tambah bagi kelangsungan kesejahteraan masyarakat.

Ekonom Universitas Mataram, Dr. Agusdin, SE.MBA., kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa (15/7) kemarin mengingatkan, adanya upaya dalam meningkatkan nilai tambah dari sejumlah potensi yang ada. Agusdin berpandangan bahwa potensi yang ada jangan sampai menjadi penghasil produk (mentah) semata.

"Di sektor pertanian, jangan sampai hanya menjadi petani. Tetapi harus ada desaign marketing (desain pemasaran), karena kekayaan alam yang ada hanyalah given (berkah)," terangnya.

Kekayaan yang ada di NTB sudah lebih dari cukup. Bahkan dinilainya melebihi potensi yang dimiliki Bali. Seperti sebuah ungkapan ‘’di Lombok ada Bali tetapi di Bali tidak ada Lombok’’, cukup mengena dalam mendeskripsikan potensi Lombok dan NTB umumnya.

Persoalannya sekarang, ujar Agusdin yang juga Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) NTB ini, adalah bagaimana mengemas melalui pencitraan. Seperti di sektor tenaga kerja, disayangkannya jika pengiriman TKI jika hanya sebagai pekerja ladang. Mestinya melalui sentuhan (pembinaan) tenaga kerja dibekali dengan keterampilan.

Meningkatkan image tenaga kerja dapat pula melalui kebijakan pengiriman tenaga dengan SDM yang lebih terampil. Misalnya TKI minimal perawat bahkan sarjana. Implikasinya tidak hanya mengurangi pengangguran lokal, namun angka remittance atau devisa dapat meningkat signifikan. Efek lain adalah memungkinkan kembalinya jati diri bangsa yang banyak disebut-sebut sebagai 'bangsa buruh', dapat diperbaiki. "Kalau dikemas, Lombok sebetulnya bisa lebih kaya (masyarakatnya, red) dari Bali."

Bagaimana kemasan dimaksud? Menurut dia, pencitraan memalui image yang positif harus dibangun mulai sekarang. Bahwa di sektor pariwisata, jaminan keamanan merupakan sesuatu yang vital dan sangat mendukung tercapainya mobilitas wisatawan untuk masuk dan keluar NTB. Kenyamanan melalui sikap ramah tamah yang ditunjukkan masyarakatnya, dapat dikemas melalui promosi yang dapat menjangkau setiap segmen pasar.

Sumber : Suara NTB

Selengkapnya.....

Selasa, 08 Juli 2008

Wapres: NTB Jadi Pusat Pelancongan Islami

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa jadi pusat pelancongan Islami atau pariwisata yang mengedepankan nilai-nilai ajaran agama. “Kita ingin membuat pusat pelancongan Islami didaerah ini, artinya selain menikmati keindahan laut dan gunung hijau juga tetap menjaga moral agama,” katanya di Anjani, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur sekitar 50 kilometer arah timur Mataram, Kamis.

Ketika bersilaturrahim dengan keluarga besar Nahdlatul Wathan (NW) di Pondok Pesantren Syech Zainuddin NW Anjani, dia mengatakan, hal itu bukan berarti membuat Bali yang kedua, sama sekali tidak.

Menurut Wapres, salah satu propinsi yang cocok menjadi pusat pelancongan Islami itu adalah NTB, karena pantainya cantik, lautnya bagus dan masyarakatnya ramah serta menjaga agamanya, karena itu cocok dijadikan suatu wilayah turisme islami.

“Namun untuk itu kita harus banyak tersenyum, kalau masyarakatnya marah-marah apalagi suka berkelahi dan bakar-bakaran mana ada orang mau datang,” ujarnya dihadapan ribuan jamaah NW.

Didampingi Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Serinata, dia mengatakan, masyarakat terutama para pelaku pariwisata harus melayani masyarakat dengan baik. Dalam kaitan itu Wapres menyarankan Madrasah NW membuka jurusan pariwisata, para santri sudah memiliki modal bahasa Arab, mereka bisa menjadi pemandu wisata khususnya bagi wisatawan asal negara-negara Timur Tengah.

Wapres mengatakan, dengan semakin berkembangnya pariwisata di NTB maka sektor lain juga ikut berkembang seperti kerajinan tenun bisa dijual dengan harga lebih tinggi, mengingat wisatawan Arab yang menjadi sasaran pemasaran pariwisata dikenal banyak uang. “Ketimbang lelah bekerja di Arab, lebih baik dinegeri sendiri dan negeri kita juga akan makmur,” ujarnya.

Untuk mengembangkan pariwisata tentu pemerintah akan memperbaiki infrastruktur jalan, listrik dan membangun Bandara bahkan sekarang sedang dibangun Bandara Internasional Lombok (BIL).

“Saya yakin dalam waktu tidak lama Lombok akan bersaing dengan Bali dalam hal kemajuan wisata walapun berbeda caranya, wisatawan yang datang mengenakan jilbab tidak ada buka-bukaan,” kara Wapres

Dalam hal itu tentu warga NW dan masyarakat muslim di NTB tidak akan keberatan. Seperti diketahui, dalam waktu dekat investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, Emaar Properties akan membangun fasilitas akomodasi dengan memanfaatkan lahan eks Pusat Pengembangan Pariwisata Lombok (LTDC).

Sumber : Antara


Selengkapnya.....

Online Insurance is an Alternative Benefit Service

May be you are not be foreign with insurances, but most better if you learn more about online insurance. It is will give you an insurance easy process. I think you must join it to give you a safety life.

This is become solution for you which in a moment experience sudden event. You of course flavor will be lighter account burden happened suddenly. Anticipate all events of rental values by online insurance. Not all your situations would pass by nicely, so you require other parties aid. One of them is an online insurance. Try to join, and get a nice service.

How to be a good member? Read and follow the all guides from online service. If you followed it, I sure that you will be a success people who want to get an insurance.

Don't disregard the good opportunity. You don't regret don't joint forces with online insurance. Many peoples whom unsuccessful reaching for the hope because disregarding the opportunity which only to comes once.

Await what else? Register yourself soon in online insurance and become quicker joining member from is other. Getting the benefit is in advance. Do not forget, invite your family to get more benefit. Many people get a successfully because the join a simple program.

Selengkapnya.....

Jumat, 27 Juni 2008

Get a Credit Card Easy By Online

Do you have credit card? I think you must have it to make your life most easy. It is solution for you often go shopping. You will not difficult do bring money. Get many goods without bringing bank roll.

Bring credit card when you traveling to any where. It is more important for you whom like traveling. You will not difficult to get it, because many sponsors will help you to have it. Many banks which provide facility as like credit card.

I was try to get credit card online. I visit a website which provide credit card. I register and write my identity. So, I get the credit card two weeks next. I do not think that I will get it is very easy. I can use to transaction on paypal.com, and can use it to withdraw money from paypal.com.

Before I have a credit card, I feel very difficult to withdraw money from paypal.com. I get some money from review. So I can not withdraw its because I do not have a credit card, because we must use a credit card to withdraw its.

Selengkapnya.....

Advertise

Get paid To Promote at any Location
 
Website ini dikelola oleh: Terune Sasak  |    Content by : MusiM